BIOGRAFI AL-HAKIM
Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi (bahasa Arab: أبو عبدالله محمد بن عبدالله الحاكم النيسابوري; 321 H/933 M - 405 H/1014 M) atau terkenal dengan sebutan Al-Hakim saja, adalah salah seorang imam di antara ulama-ulama hadits dan seorang penyusun kitab yang terkemuka di zamannya. Namanya lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Handawaihi bin Nu'aim al-Dhabbi al-Thahmani al-Naisaburi, juga terkenal dengan sebutan gelarnya Ibnu al-Baiyi.
Terdapat banyak para ahli ilmu yang meriwayatkan hadits darinya, di antaranya Daruquthni, Abu Bakar Al-Qaffal Al-Syasy dan teman-temannya. Ia sentiasa bermuzakarah dan bermuhadharah bersama para ulama hadits, bahkan ia juga pernah bermubhahasah dengan Daruquthni. Selain itu, ia juga menghasilkan karya-karya berbentuk penulisan dalam pelbagai jenis ilmu. Di antara kitab-kitab karyanya yang terkenal, ialah Ma'rifat 'Ulum al-Hadits, al-Madkhal 'ala 'ilmi al-Shahih, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, Fadhail al-Imam al-Syafi'i, dan al-Amali.
Al-Hakim dari Nishapur mengambil narasi dari 2000 ulama otoritatif dari Khorazan, Transoxiana, Irak, Persia dan tempat lain yang membawanya memiliki sanad (rantai transmisi) tertinggi di Irak dan Khorazan. Di antara para ahli hadis terkemuka dan terkenal yang meriwayatkan Al-Hakim adalah gurunya sendiri Ibnu Hibban, Al-Khattabi, Al-Daraqutni dan Al-Halimi. Beliau mempunyai banyak sekali murid-murid yang meriwayatkan hadis darinya, antara lain Al-Bayhaqi (murid terdepan), Abu Nu'aym al-Isfahani, Al-Qushayri, Muhammad bin Husain al-Sulami dan lain-lain. Al-Hakim berasal dari generasi kedua mazhab Asy'ari, mengambil syahadat langsung dari murid langsung Imam Al-Asy'ari, yang paling menonjol adalah Abu Salh Al-Suluki. Al-Hakim berguru pada sejumlah guru sufi yang mengajarinya ilmu Tasawwuf dengan yang paling menonjol adalah Syekh Abu Amr Bin Nuja.
PROFIL KITAB
Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain (bahasa Arab: المستدرك على الصحيحين) adalah kitab koleksi hadits yang disusun oleh Hakim al-Naisaburi (w. 405 H) setebal lima jilid. Al-Hakim menyusun kitab ini pada tahun 393 H (1002 M) ketika dia berumur 72 tahun. Kitab ini memuat 9045 hadits.Dia menyatakan bahwa seluruh hadits didalamnya adalah shahih menurut syarat (metode yang dipakai) Imam Bukhari dan atau Imam Muslim. Namun kitab ini mendapatkan sambutan yang beragam dari para ulama.
Kitab al- Mustadrak adalah salah satu kitab hadis yang kontroversial sejak kemunculannya karena sang penulis; al-Hakim al-Naisaburi, telah mengklaim bahwa hadis-hadis dalam kitab tersebut adalah hadis-hadis sahih yang setara dengan hadis dalam kitab sahihain. Banyaknya kritik terhadap kitab al-Mustadrak muncul karena al-Hakim dikenal sebagai ulama yang tasahul dalam menentukan status hadis. Salah satu ulama yang mengkritik kitab al-Mustadrak adalah al-Hafiz Muhammad bin Ahmad bin Usman bin Qaymaz bin Abdillah al-Zhahabi al-Tamimi atau Imam al-Zhahabi. Al- Zahabi merupakan salah satu kritikus hadis yang sangat mumpuni dalam ilmu rijal al-hadis. Ia meneliti kembali kitab al-Mustadrak dan mengatakan bahwa seperempat dari isi kitab tersebut adalah hadis-hadis da’if dan maudu’.
Al-Hakim dengan tegas menyatakan bahwa beliau hanya memuat riwayat-riwayat yang memenuhi kriteria kesahihan sesuai standar ketat Bukhari dan Muslim dalam kitabnya. Namun, dalam sejumlah kasus, ia juga mengambil inisiatif untuk menyertakan hadis-hadis yang menurut penilaian pribadinya memenuhi tingkat kesahihan. Tidak berhenti di situ, sang penyusun kitab juga menghadirkan riwayat-riwayat yang secara lahir tampak bertentangan, lalu berusaha menemukan titik temu untuk mendamaikannya. Lebih mendalam lagi, Al-Hakim tak segan memberikan ulasan mendetail terhadap teks hadis tertentu, lengkap dengan penilaian kritis terhadap kredibilitas maupun kelemahan yang mungkin ada pada para perawinya.
Dalam karya monumentalnya Al-Mustadrak, Al-Hakim menghadirkan sekitar 260 riwayat istimewa, termasuk Hadis Ghadir dan Hadis Thair yang secara gamblang mengupas keutamaan Imam Ali as. Namun, justru karena penekanan pada dimensi spiritual dan historis ini, sejumlah ahli hadis kemudian mengarahkan kritik tajam baik terhadap Al-Hakim maupun integritas kitabnya.
Di kalangan Ahlusunah, kitab Al-Mustadrak Al-Hakim menuai tanggapan beragam. Cendekiawan terkemuka seperti Arma'i dan As-Suyuti menempatkannya sejajar dengan Kutubus Sittah, mengakui kredibilitas dan kedudukannya yang tinggi. Namun, di sisi lain, tak sedikit ulama yang mencatat keberadaan hadis-hadis lemah dalam karya tersebut. Kritik ini mencapai puncaknya ketika Ibnu al-Jauzi secara spesifik mengidentifikasi sekitar 60 hadis dari Al-Mustadrak yang kemudian dicantumkan dalam karya monumentalnya, Al-Maudhu'at, sebagai bagian dari hadis-hadis bermasalah.
Signifikansi Al-Mustadrak Al-Hakim dalam khazanah keilmuan Islam tergambar jelas melalui banyaknya karya turunan yang lahir sebagai respons terhadap kitab ini—sebuah bukti nyata betapa kitab ini terus menjadi perhatian serius di kalangan ulama Ahlusunah. Tak hanya hidup dalam diskusi akademis, kitab ini juga terus dicetak ulang secara berkesinambungan, mengukuhkan relevansinya dari masa ke masa.
Download Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 1-12 klik dibawah ini
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 1
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 2
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 3
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 4
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 5
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 6
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 7
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 8
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 9
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 10
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 11
- Terjemah Kitab Al-Mustadrak Jilid 12
Semoga Bermanfaat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar