lainnya dari beberapa ulama seperti Syaikh Hisâm al-Dîn al-Mu’wî dan Syaikh Faidhullah al-Mu’wî. Sedangkan ilmu tafsir dan ilmu hadis dipelajari dari seorang guru yang dikenal dengan lautan ilmu dan teladan ummat, yaitu al-Imâm al-Hâfizh Syaikh ‘Abdullah al-Mu’wî.
Selanjutnya, dia melakukan perjalanan ke Dehli atas perintah gurunya dan izin orang tuanya untuk berguru ilmu hadis kepada Nadzîr Husayn al-Bihâriî, (seorang ulama seperti Imam Bukhary pada zamannya, Abu Hanifah dalam bidang fiqhi, Sibawaih dalam bidang bahasa Arab, al-Jurjâni dalam ilmu Balaghah, Syiblî dalam ilmu irfan dan irsyad, Ibnu Adhâm dalam bidang zuhud dan seperti Ibnu Hambal dalam kewaraan dan ketakwaannya). Guru dia ini dikenal sebagai hujjah, syaikh al-‘Alî dan ikutan ummat, bahkan al-Dahlawî memberinya gelar Syaikh al-Kulli fi al-Kulli. Kepadanyalah, al-Mubârakfûrî mempelajari kitab-kitab hadis seperti Shahih Bukhâri, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud dan Sunan al-Tirmidzî. Dia mendapat ijazah dari gurunya itu untuk mempelajari kitab-kitab tersebut.
Setelah menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, al-Mubârakfûrî kembali ke kampung halamannya. Siang dan malam, Dia memberikan pengajaran, mengajak manusia kepada jalan Allah Swt dan menunjukkan jalan yang lurus. Bahkan dia mendirikan sekolah yang diberi nama Dâr al-Ta’lîm. Melalui sekolah itu, dia mengajarkan sunnah, memberi fatwa dan nasehat kepada ummat, baik melalui pena maupun lisan.
Dalam ilmu hadis, dia memiliki keistimewaan dan kekhususan, yaitu mampu membedakan hadis-hadis shahih dan dhaif, marfu’ dan mawquf, mahfuzh dan ma’lul, muttashil dan mungqathi’ dan jenis-jenis ilmu hadis lainnya seperti ilmu rijal hadis, jarah dan ta’dil serta thabaqah-thabaqahnya. Di samping itu, dia juga memiliki pemahaman yang mendalam terhadap makna-makna hadis dan mengeluarkan istimbat darinya. Tidak seorang pun menyamai kemampuan dia pada zamannya.
Kemudian dari segi periwayatan hadis, dia memiliki dua jalur sanad, yaitu: Pertama, Dari gurunya, Sayyid Muhammad Husayn Nadzîr (dikenal dengan Syaikh al-Kulli fi al-Kulli), dari Syaikh al-Mukarram Muhammad Ishâq al-Muhdits al-Dahlawî, dari Abdul Azîz al-Dahlawî, dan dari Syaikh Imâm Waliullah al-Dahlawî; Kedua, al-Qâdhi Husayn bin Muhsin al-Anshârî, dari gurunya Muhammad bin Nâshir al-Husnâ al-Hâzimî dan al-Qâdhi al-Allâmah Ahmad bin al-Imâm Muhammad bin ‘Alî al-Syaukânî, dan dari Imâm al-Hâfizh al-Rabbânî Muhammad bin ‘Alî al-Syaukânî.
Adapun karya-karyanya antara lain:
- 1. Muqaddimah Tuhfat al-Ahwadzî
- 2. Tukhfat al-Akhwadzî Syarh Jâmi’ al-Tirmidzî
- 3. Abkâr al-Manân fî Tanqîd Atsâr al-Sunan
- 4. Tahqîq al-Kalâm fî Wujûb al-Qirâ’ah Khalf al-Imâm
- 5. Khair limâ ‘Awn fî Man’I al-Firâr min al-Thâ’ûn
- 6. al-Maqâlah al-Husnâ fî Sunniyah al-Mushâfahah bi al-Yadi al-Yumnâ
- 7. Kitâb al-Janâ’iz
- 8. Nûr al-Abshâr
- 9. Dhiyâ’ al-Abshâr
- 10. Tanwîr al-Abshâr dan
- 11. al-Qaul al-Sadîd Fîmâ Yata’allaq bitakbîrât al-‘Iyd.
Profil Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Tirmidzi
Nama lengkap kitab tersebut adalah Tuhfat al-Ahwadzî Syarh Jâmi’ al-Tirmidzî. Kata Tuhfat berarti karya besar, mutiara, permata dan hadiah. Sedangkan kata al-Ahwadzî berarti ringan dalam melakukan sesuatu karena kecerdasan dan ketajaman pikirannya.8 Dengan demikian, judul kitab syarah tersebut dapat diartikan dengan “Suatu karya yang dapat meringankan dan memudahkan memahami hadis-hadis dalam kitab Sunan al-Tirmidzî melalui syarah yang cemerlang.”
Pada mulanya, kitab syarah ini terdiri dari 4 jilid besar. Kemudian dicetak ulang oleh percetakan Dâr al-Fikr dengan 10 jilid. Susunan dan metode kitab ini dijelaskan secara panjang lebar di dalam Muqaddimah . Kitab yang terakhir ini terdiri dari dua juz digabung menjadi satu jilid, terdiri dari dua bab, yaitu bab pertama, membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan ilmu hadis, kitab-kitab dan penyusunnya secara umum. Bab ini terdiri dari 41 pasal. Pasal pertama membahas tentang ilmu hadis, materi dan tujuannya, Pasal kedua membahas tentang keutamaan ilmu hadis dan ahlinya, pasal ketiga membahas tentang pentadwinan hadis, keempat membahas tentang penulisan hadis, kelima membahas tentang ketetapan hadis sebagai hujjah dan kewajiban mengamalkannya dan seterusnya sampai pasal 41 yang membahas tentag kitab-kitab hadis selain kitab standar, seperti Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibbân dan lain-lain.
Bab kedua membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan Imâm al-Tirmîdzî dan kitabnya. Bab ini terdiri dari 17 pasal. Pasal pertama membahas tentang biografi Imam al-Tirmîdzî, kedua membahas tentang keutamaan Jâmi’ al-Tirmîdzî, ketiga membahas tentang periwayat-periwayat Jâmi’ al-Tirmîdzî, keempat membahas syarat-syarat al-Tirmîdzî, kelima tentang susunan Jâmi’ al-Tirmîdzî dan seterusnya sampai kepada pasal 17 yang membahas tentang penjelasan sebahagian lafaz-lafaz yang digunakan oleh pensyarah, baik dalam muqaddimahnya maupun dalam syarahnya terhadap kitab Jâmi’ al-Tirmîdzî.
Download Terjemah Tuhfatul Ahwadzi
Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Sunan Tirmidzi) 1
Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Sunan Tirmidzi) 2



Tidak ada komentar:
Posting Komentar