Sabtu, 21 Februari 2026

(cp.77) TAFS. FI ZHILALIL Quran 1-12Sayid Qutub



Biografi Sayid Qutub

Sayyid Qutb memiliki nama lengkap Sayyid Qutb Ibrahim Husain Syadzili. Ia lahir pada tanggal 9 Oktober 1906 M di sebuah kampung yang bernama Musyah, daerah Asyut dataran tinggi Mesir (Qutb, 2006). Dalam usianya yang belum genap sepuluh tahun Sayyid Qutb telah hafal al-Qur’an. Sayyid Qutb tumbuh dalam keluarga yang taat pada ajaran Islam, hal ini tidak terlepas dari didikan ayah dan ibunya yang terkumuka taat dan berpendidikan. Ibunya berasal dari keluarga yang kaya dan ayahnya berprofesi sebagai anggota Komisaris Partai Nasional di desanya (Aliyah, 2013).

Ayahnya yaitu Haji Qutb merupakan seorang yang disegani dan sangat mengasihi orang-orang miskin. Setiap tahun beliau mengadakan majlis-majlis jamuan dan tilawah al-Qur’an di rumahnya. Selain itu ibunya Sayyid Qutb merupakan seorang yang bertaqwa dan sangat mencintai al-Qur’an. Ketika majlis-majlis al-Qur’an yang diadakan di rumahnya, Sayyid Qutb mendengar dengan penuh khusyu sehingga hal ini begitu melekat pada ingatan Sayyid Qutb kecil (Qutb, 2006).

Sejak masih kanak-kanak dan remajanya Sayyid Qutb sudah memperlihatkan petanda-petanda kecerdasan yang tinggi dan bakat-bakat yang cemerlang, disamping itu beliau juga merupakan seorang yang gemar membaca dan berani mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan mengeluarkan pendapat-pendapat yang benar.

Sayyid Qutb memiliki empat saudara kandung. Semua saudaranya memiliki minat dalam dunia pendidikan, salah satu saudaranya yaitu Nafisah memilh menjadi seorang aktivis Islam dan yang lainnya berprofesi sebagai penulis. Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa Sayyid Qutb beserta keluarganya memiliki minat yang serius dalam khazanah ilmu-ilmu Islam (Wulandari et al., 2017).

Pendidikan dan Karir Intelektual Sayyid Qutb

Salah satu prestasi gemilang Sayyid Qutb ialah ketika berusia sepuluh tahun ia mampu menghafal Al-Qur’an, dan memiliki pengetahuan yang luas serta mendalam mengenai Al-Qur’an. Ia menempuh pendidikan dasar di daerahnya selama empat tahun, kemudian ia melanjutkan ke Kairo di Madrasah Sanawiyah pada tahun 1921. Pada tahun 1925 Sayyid Qutb melanjutkan studinya di Madrasah Muallimin selama tiga tahun dan mendapatkan ijazah kafa’ah (kelayakan mengajar).

Pada tahun 1929 Sayyid Qutb melanjutkan kuliah di Universitas Daar al-‘Ulum dan memperoleh gelar sarjana (Lc) dalam bidang sastra sekaligus diploma pendidikan. Pada saat kuliah Sayyid Qutb menunjukkan kecerdasannya pada sastra Ingggis sehingga banyak membaca karya sastra yang asli maupun dalam bentuk terjemahan. Selain itu, ia juga terpengaruh oleh Abbas Mahmud al-Aqqad yang mana pendekatannya condong ke Barat (Muhajirin, 2017).

Setelah lulus kuliah keseharian Sayyid Qutb ialah sebagai tenaga pengajar di universitas tersebut. tidak lama kemudian ia diangkat sebagai pengawas pada kementerian Pendidikan dan pengajaran di Mesir, hingga menjabat sebagai inspektur.  

Selama bekerja Sayyid Qutb mendapatkan kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuannya mengenai pendidikan. Ia kuliah di dua college sekaligus dalam kurun waktu kurang lebih dua setengah tahun, Wilson’s Teacher College yang terletak di Washington dan di Stanford University yang terletak di California. Selama di U.S.A ia sempat berkeliling ke barbagai kota dan negara di eropa antara lain Inggris, Swiss, dan Italia (Aliyah, 2013).

Hasil dari perjalanannya Sayyid Qutb melihat sekalipun negara-negara Barat sangat maju di bidang teknologi dan keilmuan modern, namun dalam penilaiannya peradaban Barat sesungguhnya rapuh karena nihil dari nilai-nilai spiritual. Sosial kemasyarakatan disana memiliki problem yang menimbulkan paham materialisme sehingga pelik terhadap paham ketuhanan. Disana ia melihat betapa besar dukungan pers Amerika untuk Israel, hal ini menimbulkan kepahitan dalam hatinya dan merasakan ketidakadilan dalam pembasmian rakyat Palestina (M Taufiq Rahman, 2014).

Sekembalinya ke Mesir Sayyid Qutb mulai aktif menulis seputar topik-topik Islam. Ia yakin bahwa Islamlah yang mampu menyelamatkan manusia dari paham materialisme yang tidak pernah memuaskan. Kesungguhan Sayyid Qutb dalam hal tulis menulis mengenai Khazanah Islam membuatnya memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Selain karena hal menulis Sayyid Qutb memilih mengundurkan diri karena melihat adanya ketidakselarasan kebijakan yang dimabil pemerintah dalam bidang pendidikan yang terlalu tunduk pada pemerintah Inggris (M T Rahman, 2010).

Dengan jarak waktu yang singkat Sayyid Qutb langsung bergabung dalam keanggotaan Ikhwan al-Muslimin sebagai satu gerakan yang bertujuan untuk mewujudkan kembali syari’at politik Islam yang menyeluruh. Dari Organisasi inilah Sayyid Qutb banyak menyerap pemikiran Hasan al-Banna dan Abu al-A’la al-Maududi, dan sempat menjadi tokoh berpengaruh dalam gerakan ini. Ia meyakini bahwa gerakan ini tak tertandingi dalam hal menghadang Zionisme, salibisme, dan kolonialisme. (Aliyah, 2013)

Pada tahun 1955 Sayyid Qutb ditahan oleh Presiden Nasser. Penyebab dari penahanannya ialah tuduhan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah. Kemudian pada tanggal 13 juli 1955 Sayyid Qutb resmi ditahan dan dijatuhkan hukuman 15 tahun kerja berat. Pada tahun 1964 ia dibebaskan atas usul presiden Irak Abdul Salam Arif yang mengadakan kunjungan Muhibah ke Mesir. Dalam kurun waktu satu tahun menikmati pembebasannya, Sayyid Qutb kembli ditahan bersama tiga orang saudaranya yaitu Muhammad Qutb, Hamidah dan Aminah. Presiden Nasser lebih menguatkan tuduhannya bahwa ikhwanul muslimin berkomplot untuk membunuhnya. Berdasarkan Undang-undang No 911 tahun 1966, presiden mempunyai kewenangan untuk menahan tanpa proses, bagi siapapun yang dianggap bersalah. Pada tanggal 29 agustus 1966 Sayyid Qutb bersama dua orang temannya menjalani hukuman mati, pemerintah mesir tidak menghiraukan protes dari organisasi amnesti internasional yang menganggap proses pengadilan Sayyid Qutb bertentangan dengan keadilan. Sayyid Qutb akan selalu dikenang dari berbagai karya dan perjuangannya dan ia dianggap syahid oleh khalayak besar (Muhajirin, 2017).

Karya-karya Sayyid Qutb

Sayyid Qutb memiliki banyak sekali karya, beliau meninggalkan sejumlah kajian dan studi baik bersifat sastra maupun keislaman (Saragih, 2015). Berikut ini merupakan beberapa karya Sayyid Qutb:

  • 1. Muhimmatus Sya’ir Fil Hayah Wa Syi’ir Al-Jail Al-Hadhir, karyanya ini terbit pada tahun 1935.
  • 2. Asy-Syathi’al Majhul, terbit pada tahun 1935.
  • 3. Naqd kitab “Mustaqbal Ats-Tsaqafah Fi Mishr” Li Ad-Duktur Thaha Husain, terbit pada tahun 1945.
  • 4. At-Tashwir Al-Fanni Fil Qur’an, terbit pada tahun 1945.
  • 5. Al-Athyaf Al-Arba’ah, karyanya ini ditulis bersama saudara-saudaranya, terbit pada tahun 1945
  • 6. Thifl Min Al-Qaryah, terbit pada tahun 1946.
  • 7. Al-Madinah Al-Manshurah, terbit pada tahun 1946.
  • 8. Masyahid Al-Qiyamah Fil Qur’an, terbit pada tahun 1947.
  • 9. Al-Qashash Ad-Diniy.
  • 10. Al-‘Adalah Al-Ijtima’yah Fi Al-Islam, terbit pada tahun 1949
  • 11. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, terbit pada tahun 1952.
  • 12. Dirasat Islamiyah

Selain karya-karya Sayyid Qutb yang telah disebutkan di atas, masih sangat banyak karya-karya Sayyid Qutb yang lainnya.

Profil Tafsir fi Zhilalil Quran

Kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur’an merupakan kitab tafsir yang ditulis yang bersandarkan pada kajian-kajian Sayyid Qutb yang mendalam yang diambil langsung dari al-Qur’an dan as-Sunah, disamping bersumberkan pada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar (Qutb, 2006).

Dalam menulis tafsir ini beliau telah menghabiskan lebih dari separuh usianya dalam pembacaan dan penelaahan yang mendalam terhadap hasil-hasil intelektual dalam berbagai bidang pengajian dan teori-teori, berbagai aliran pemikiran serta kajian mengenai agama-agama lain. Selain itu, beliau juga memperkaya pengetahuannya dengan melakukan kajian-kajian di bidang penulisan, keguruan, pendidikan serta pengamatannya yang luas dan tajam dalam perkembangan-perkembangan sosial politik (Qutb, 2006).

Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ini ditulis dengan tinta derita dan sengsara yang begitu pahit akibat penindasan dan kekuasaan zalim pada masa itu. Beliau mendapatkan penyiksaan yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan, kesengsaraan itu membuat beliau bertumpu kepada Allah dan penghayatan al-Qur’an, dimana beliau hidup dibawah bayangan al-Qur’an dengan seluruh jiwa dan perasaannya. Hal-hal inilah yang menjadi faktor penting lahirnya tafsir “Fi Zhilalil Qur’an”.

Download Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Quran dalam Bahasa Indonesia




Tidak ada komentar:

Posting Komentar