Kamis, 05 Maret 2026

(cp.58) SHAHIH IBNU KHUZAIMAH JILID 1 -4(Hadith Hadits Hadis) by Imam Ibnu Khuzaimah



Biografi Ibnu Khuzaimah (223-311 H= 838-924 M)

Nama lengkap Ibn Khuzaymah adalah ‘Abu Bakr Muhammad bin ‘Ishaq bin Khuzaymah al-Naisaburi al-Shafi’i. Ia lahir pada bulan Safar 223 H/838 M di Naisabur (Nisapur), sebuah kota kecil di Khurasan yang sekarang terletak di bagian Timur laut negara Iran.1

Sejak kecil ia telah mempelajari al-Qur’an. Setelah itu, ia sangat suka melawat untuk menemui Ibn Qutaybah (w. 240 H = 854 M) guna mencari dan mempelajari hadith. Ia minta izin kepada bapaknya, namun bapaknya meminta agar putranya terlebih dahulu mempelajari al-Qur’an sehingga benar-benar memahaminya. Setelah dianggap mampu memahami al-Qur’an, barulah ia diizinkan untuk mencari dan mempelajari hadith-hadith Nabi dengan melawat ke Marwan dan menemui Muhammad bin Hisham dan Ibnu Qutaybah.2

Guru-gurunya

Ibn Khuzaymah memulai lawatannya dalam mengkodifikasi hadith-hadith Nabi sekitar tahun 240 H= 855 M, yakni ketika ia berusia tujuh belas tahun. Ia giat mengadakan lawatan intelektual ke berbagai kawasan Islam. Di Nisapur ia belajar kepada Muhammad bin Humayd (w. 230 H= 844 M), ‘Ishaq bin Rahawayh (w. 238 H = 852 M) dan lainnya. Di Marwa ia belajar hadith kepada ‘Alibin Muhammad. Di Ray ia belajar hadith kepada Muhammad bin Maran dan lainnya. Di Jazirah ia belajar hadith kepada ‘Abd al-Jabbar bin al-’Aladan lain-lain. Di Mesir ia belajar hadith kepada Yunus bin ‘Abd al-’Aladan lainnya. Di Wasit ia belajar hadith kepada Muhammad bin Harb dan lainnya. Di Bagdad ia belajar hadith kepada Muhammad bin ‘Ishaq al-Sagani dan lainnya. Di Basrah ia belajar hadith kepada Nasr bin ‘Alial-Azadi al-Jahdimi dan lainnya. Dan di Kufah ia belajar hadith kepada ‘AbuKuraib Muhammad bin al-’Ala’ al-Hamdani dan lainnya.

Selain itu, ia juga banyak meriwayatkan hadith dari ‘Ahmad bin Mani’, Muhammad bin Rafi’, Muhammad bin Bashr, Bandar Muhammad bin ‘Isma’ilal-Bukhari, Muhammad bin Yahya al-Zuhali, ‘Ahmad bin Sayyar al-Mirwazidan lainnya. Ia juga menerima hadith dari al-Bukhari, Muslim, dan lainnya. Guru-guru Ibn Khuzaymah memang sangat banyak jumlahnya. Dalam periwayatan hadith ia tidak mau menyampaikan hadith-hadith Nabi yang telah ia terima dari guru-gurunya sebelum ia benar-benar memahaminya, dan sering kali ia memperlihatkan catatan- catatan hadith-nya kepada guruya.3

Murid-muridnya

Murid-murid yang pernah meriwayatkan hadith dari Ibn Khuzaymah jumlahya sangat banyak. Bahkan, sejumlah gurunya pun ada yang meriwayatkan hadith darinya, seperti al- Bukhari, Muslim, Muhammad bin ‘Abd Allah bin Abd al-Hakam.

Di antara murid-murid Ibn Khuzaymah ialah Yahyabin Muhammad bin Sa’id, ‘Abu‘Alial- Naysaburidan lainnya. Yang paling akhir meriwayatkan hadith darinya di Nisapur ialah cucunya sendiri yaitu ‘AbuTahir Muhammad bin al-Fadl.

Hadith-hadithnya pun banyak diriwayatkan oleh ulama terkemuka pada zamannya. Di antara yang meriwayatkan hadith darinya ialah ‘Abual-Qasim Sulayman bin Ahmad bin Ayyub al-Tabra’i, ‘AbuHatim, Muhammad bin Hibban al-Bushti, ‘AbuAhmad ‘Abd Allah bin ‘Abd al- Jurjani, ‘AbuIshaq Ibrahim bin Abd Allah bin al-Albihani, ‘AbuBakr Muhammad bin ‘Isma’il al- Sasi, al-Qafal al-Kabir dan lainnya. 

Berkat kecerdasan dan keuletannya dalam mencari ilmu pengatahuan, akhimya Ibn Khuzaymah menjadi imam besar di Khurasan. Ia juga banyak menggeluti hadith dengan mempelajari dan mendiskusikannya. Karena itulah ia tekenal sebagai seorang hafizdan digelari imam al-a’immah (pemimpin para pemimpin). Menurut pengakuannya ia hafal 70.000 hadith.4

Dari segi kepribadiannya Ibn Khuzaymah dikenal sebagai orang yang sangat baik. Banyak orang yang memberikan kesaksian dan komentar tentang hal ini. Selain itu, ia juga dikenal memiliki kecerdasan atau daya hafal yang luar biasa. ‘AbuAli al-Husain bin Muhammad al- Hafizal-Naysaburiberkata: “ Saya belum pernah menemukan orang sehebat Muhammad bin Ishaq (Ibn Khuzaymah). Ia sangat mampu menghafal hukum-hukum fiqih dari hadith-hadith Nabi sebagaimana hafalan al-Qur’an.” Senada itu juga dikemukakan oleh al-Daraqutniyang menyatakan bahwa ia adalah seorang pakar hadith yang sangat terpercaya dan sulit dicari bandingannya. Sementara itu, Ibn AbiHatim memberikan komentar bahwa Ibn Khuzaymah adalah orang yang sangat mampu. Al-Rabi’, salah seorang guru Ibn Khuzaymah dalam bidang fiqih, di samping Ibn Rahawayh dan al-Muzanijuga menuturkan secara tulus bahwa mereka banyak memperoleh manfaat dari Ibn Khuzaymah. Ketelitiannya dalam menghimpun hadith terungkap dalam pernyataannya: Sesungguhnya apabila saya hendak memasukkan sebuah hadith dalam buku ini maka saya lakukan salat istikharah terlebih dahulu.5

Karya-karyanya

Selama masa hayatnya Ibn Khuzaymah banyak menghasilkan karya tulis. ‘AbuAbd Allah al-Hakim menyebutkan bahwa karya Ibn Khuzaymah mencapai lebih dari 140 buah. Sayangnya sebagian besar karya-karyanya tidak sampai kepada kita, meskipun sekedar nama atau judulnya. Karyanya yang masih bisa dijumpai saat ini hanya dua. Yaitu Kitab al-Tamhid dan Kitab Sahih Ibn Khuzaymah. Berdasarkan penelusuran M.M. Azami terhadap kedua kitab tersebut di dalamnya ia menemukan 35 buah nama “ bab” yang pernah disebutkan oleh Ibn Khuzaymah. Nama- nama “ bab” yang disebutkan itu ialah: al-Ashribah, al-Imamah, al-Ahwal, al-Iman, al-Iman wa al-Nuzur, al-Birr wa al-Silah, al-Buyu’, al-Tafsir, al-Tawbah, al-Tawakkal, al-Jana’iz, al- Jihad, al- Du’a’, al-Da’awat, Dhikr Na’im al- Jannah, al-Sadaqat, al-Sadaqat min Kitabih al-Kabir, Sifat Nuzul al-Quran, al-Mukhtasar min Kitab al-Salah, al-Salah al-Kabir, al-Salah, al-Siyam, al-Tiba’ wa al-Ruqa’, al-Zihar, al-Fitan, Fadl Alibin AbiTalib, al-Qadr, al-Kibr, al-Libas, Ma’anial-Quran, al-Manasik, al-Wara’, al-Wasaya,  al-Qira‘ah Khalf al-Imam.6

Dari penyebutan 35 nama “ bab” di atas, menurut M.M. Azami, tema-tema “ bab” tersebut dapat memiliki tiga kemungkinan: Pertama, Merupakan judul atau nama buku tersendiri, Kedua, hanya merupakan bagian atau bab dari satu buku. Dan ketiga, dapat pula berarti kedua-duanya, yakni terkadang sebagai judul atau nama buku tersendiri, dan terkadang sebagai bagian atau bab dari suatu buku. M.M. Azami berpendapat bahwa kemungkinan yang terakhirlah yang lebih kuat. Ia mengakui bahwa para ulama’ hadith seringkali menyusun kitab-bukunya terdiri dari beberapa “ bab” .7 Hal itu misalnya dapat dilihat dalam Kitab Sahihal-Bukhariyang terdiri dari beberapa bab yaitu: al-Iman, al-’Ilm, al-Wudu‘, dan seterusnya.8

Setelah mengisi masa hidupnya dengan berbagai perjuangan dan pengabdian, akhirnya pada malam Sabtu tanggal 2 Dhual-Qa’dah 311 H/ 924 M, Ibn Khuzaymah wafat dalam usia kurang lebih 89 tahun. Jenazahnya dimandikan, dikafani, disalati dan dimakamkan di bekas kamarnya

Klik Download SHAHIH IBNU KHUZAIMAH JILID 1 -4 (Hadith Hadits Hadis) by Imam Ibnu Khuzaimah

SHAHIH IBNU KHUZAIMAH JILID 1

SHAHIH IBNU KHUZAIMAH JILID 2

SHAHIH IBNU KHUZAIMAH JILID 3

SHAHIH IBNU KHUZAIMAH JILID 4

Profil Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah

Patut disayangkan kitab Sahih karya Ibn Khuzaymah tidak sampai kepada kita secara lengkap, karena kitab ini sebelumnya hilang. Sebelum tercetak dalam sebuah buku, karya ini masih berupa manuskrip-manuskrip yang ditemukan pertama kali sekitar abad ke-6 atau awal abad ke-7 H, di toko kitab Ahmad Salis, Istambul. Sharifuddin al-Dimyati(w.705 H) menginformasikan bahwa ia hanya mendapati seperempat dari kitab Ibn Khuzaymah, yaitu seperempat dalam masalah ibadah, sebagaimana juga disebutkan oleh al-Hafiz Ibn Hajar, meskipun Ibnu Hajar juga mendapati dua kitab lainnya yaitu kitab Siyasah dan kitab Tawakkal dari Sahih Ibn Khuzaymah. Sedangkan jumlah hadith dalam bagian yang tersisa hingga sekarang adalah 3079 buah. Jika penemuan itu hanya seperempatnya, maka perkiraan jumlah seluruhnya adalah sekitar 10.000 hadith. Hal ini menunjukkan bahwa kitab tersebut lebih besar dari Sahih al-Bukhari dan Muslim. Sekaligus menunjukkan bahwa kitab tersebut merupakan kitab yang terbesar dalam men-tashhih hadith.

Naskah cetakan yang beredar di pasaran sekarang ini adalah hasil suntingan Dr. MM. Azami yang diterbitkan oleh al-Maktab al-Islami, Beirut tahun 1390 H./1970 M. Penamaan kitab ini dengan nama SahihIbn Khuzaymah sebenamya bukanlah penamaan dari penyusun sendiri, karena Ibn Khuzaymah sendiri menamai karyanya itu dengan nama: Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad al-Sahih.

Hal itu ditunjukkan oleh pernyataan Ibnu Khuzaymah sendiri dalam kitab tersebut. Selain itu ulama-ulama sesudahnya (mutaqaddimin) banyak yang mengutip dari kitab tersebut dan menyebutnya sebagai Mukhtasar al-Mukhtasar, di antaranya adalah al-Khalili, al-Bayhaqi, dan al-Dzahabi.

Penamaan kitab ini dengan Sahih Ibn Khuzaymah dipakai oleh para ulama muta’akhirin seperti al-Mundiri, al-Dimyati, al-Turkimani, al-Zaylai dan semakin populer sejak Ibn H ajar al- Asqalani, al-Suyuti dan Ibn Fahd dan berlanjut hingga sekarang.

Untuk mengenal kitab ini, bisa dimulai dari judul yang diberikan oleh penyusunnya. Pertama, apa yang dimaksud oleh Ibn Khuzaymah dengan menyebutkan kata Mukhtasar al- Mukhtasar? Pemerhati hadith menyaksikan al-Bukharijuga menamai kitabnya dengan al- Mukhtasar, Imam Muslim menamai kitabnya dengan al-Musnad al-Sahihal-Mukhtasar. Padahal dalam kenyataannya karya Ibn Khuzaymah jauh lebih besar dari Sahihal-Bukharidan Sahih Muslim.

M.M. Azami dalam Muqaddimah SahihIbn Khuzaymah menduga bahwa Ibn Khuzaymah mempunyai dua kitab hadith, salah satunya adalah al-Musnad al-Kabir, dan ini merupakan kitab induk, sedangkan kitabnya yang sampai kepada kita sekarang adalah ringkasan (mukhtasar) dari kitab al-Musnad al-Kabir, atau penyempumaan darinya yang penyusunannya belum selesai. Dugaan ini disanggah oleh Dr. al-Sharif Hatim bin ‘Arif al-’Awnimengingat al-Musnad al-Kabir karya Ibn Khuzaymah tersebut tidak seluruhnya memuat hadith sahihsebagaimana yang disinggung oleh pernyataan Ibn Khuzaymah sendiri dalam kitab Sahih-nya. Ia menyimpulkan dari hasil kajiannya bahwa dengan menamai Mukhtasar al-Mukhtasar, Ibn Khuzaymah tampaknya merasa tidak cukup dengan kata mukhtasar saja dan ingin lebih mempertegasmakna mukhtasar yang digunakan al-Bukharidan Muslim, dengan maksud menepis kemungkinan dugaan sebagian orang bahwa kitabnya memuat seluruh hadith sahih.

Selanjutnya ia menyebutkan “ min musnad al-Sahih“ dengan musnad Ibn Khuzaymah hanya memasukkan hadith-hadith yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah Saw. Dan dengan kata al-sahihdimaksudkan kitab tersebut tidak dimasukkan di dalamnya hadith-hadith yang da’if. atau dengan kata lain “ mafih al-kifayah al-sahih‘an nabiyy” 

Permasalahan yang muncul selanjutnya adalah jika sebelumnya telah ada Sahihal-Bukhari dan SahihMuslim, maka apa faedahnya menyusun kitab sahihyang lain? Alasannya, karena memang penyusunnya mempunyai satu perhatian lebih terhadap hal-hal yang tidak tercakup dalam kedua kitab sahihsebelumnya, mengingat baik al-Bukharimaupun Muslim sendiri mengakui bahwa kedua kitab Sahihnya itu tidak mencakup seluruh hadith sahih, sehingga masih banyak hadith sahihyang tidak masuk dalam kedua kitab tersebut.


Dengan kitab ini Ibn Khuzaymah tampaknya hendak menambahkan hadith-hadith lain yang tidak atau belum di-sahih-kan oleh al-Bukharidan Muslim. Demikianlah setiap penyusun kitab sahihsetelah al-Bukharidan Muslim didapati mereka mempunyai perhatian untuk menambahkan hadith-hadith sahihyang tidak atau belum dicantumkan oleh keduanya. Hal ini dapat dicermati pada karya Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Diya’dan penyusun kitab sahihsetelah al-Bukharidan Muslim selain penyusun kitab-kitab al-mustakhraj.10

Penyusunan kitab SahihIbn Khuzaymah, menurut M.M Azami, dilakukan dengan cara imla’ (pendektean guru kepada muridnya). Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya pengulangan kata-katanya qad amlayt (aku telah mendektekan) dalam kitab SahihIbn Khuzaymah yang menunjukkan pengertian tersebut.

Adapun sistematika penyusunannya, naskah cetakan kitab SahihIbn Khuzaymah yang dikaji seluruhnya terdiri dari 4 jilid. Keseluruhannya berisi tujuh kitab (dalam arti bab). Ketujuh kitab yaitu: Kitab al-Wudu’, kitab al-Salah, kitab al-Imamah fial-Salah, kitab al- Jama’ah, kitab al-Siyam, kitab al-Zakah dan  kitab al-Manasik.

Setiap kitab dibagi menjadi beberapa bab (dalam arti sub bab) dengan jumlah yang berbeda-beda. Untuk empat kitab paruh pertama, yakni: Kitab al-Wudu’, kitab al-Salah, kitab al-Imamah fial-Salah, dan kitab al- Jum’ah. Setiap babnya diberi nomor urut dari mulai awal sampai akhir. Dengan kata lain, penomoran hadith selalu dimulai dari setiap bab. Sedangkan pada ketiga kitab berikutnya yaitu: Kitab al-Siyam, kitab al-Zakah dan kitab al-Manasik, penomoran bab-nya digabungkan mulai bab ke-1 sampai dengan bab: 887.

Bab-bab yang dianggap masuk dalam satu topik digabungkan atau dimasukan ke dalam satu kelompok bab yang disebut dengan jumma’al-abwab. Setiap jumma’ al-abwab diberi nama tertentu, seperti pada kitab dan bab. Pemberian nama jumma’ al-abwab sangat membantu para pembaca dalam menemukan topik yang lebih umum yang dapat mencakup banyak bab, namun cakupannya lebih sempit ketimbang kitab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar