Shahih Ibnu Hibban (al-Taqsim wa al-Anwa') adalah kumpulan hadis sahih disusun oleh Imam Ibnu Hibban, salah satu kitab primer (mashadir ashliyyah) yang diakui kredibilitasnya. Terjemahan bahasa Indonesia umumnya diterbitkan oleh Pustaka Azzam dalam set 8 jilid, yang mencakup berbagai tema fikih, akidah, dan hadis-hadis penting.
Berikut detail terkait Shahih Ibnu Hibban 1-8:
Penerbit/Penerjemah: Terjemahan lengkap 8 jilid ini diterbitkan oleh Pustaka Azzam.
Karakteristik: Kitab ini terkenal dengan sistematika penyusunan yang unik (berdasarkan Taqsim wa Anwa') dan salah satu kitab hadis yang hanya memuat hadis-hadis berstatus sahih, sebagaimana kitab Shahih lainnya.
Kandungan: Meliputi bab-bab ibadah (thaharah, shalat), muamalah, kisah nabi, serta hukum-hukum lainnya.
Kitab ini merupakan referensi penting bagi penuntut ilmu dalam menelaah hadis setelah Shahihain (Bukhari-Muslim).
Download Shahih Ibnu Hibban
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 1
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 2
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 3
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 4
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 5
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 6
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 7
- Shahih Ibnu Hibban Jilid 8
Biografi Ibn Hibban
Nama beliau adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Muaz bin Ma’bad Abu hatim at-Tamimy al-Busty as-Sijistany. Beliau dilahirkan pada tahun 270 H/884 M di daereh Sijistan, Afganistan (sekarang). Dan beliau wafat pada tahun 354 Hijriah.[1]
Menurut Az-Zahabi, pada awal tahun 300 Hijriah, Ibn Hibban melakukan pengayaan intlektual dengan menimba ilmu di beberapa Negara, selain di daerah di mana ia dilahirkan, ia juga pergi menuntut ilmu ke-Naisabur, Irak, Syam, Mesir, dan Hijaz. lewat pengembaraannya ini -seperti yang ia sebutkan dalam muqaddimah kitabnya, gurunya mencapai ribuan. Akan tetapi dari sekian banyak guru, ia hanya meriwayatkan hadis lewat jalur kurang lebih 150 guru saja, dan menurut Ibn Hibban hanya 20 orang guru saja yang paling dhabit dan mu’tamad. Di antaranya: Abu Ya’la al-Mausuly, Ibn Khuzaymah, Hasan bin Sufyan, dan Abu ‘Arubah al-Harany.
Ibn Hibban adalah seorang ulama yang tidak hanya pandai dibidang hadits, akan tetapi banyak displin ilmu lain yang ia kuasai, seperti fikih, kalam, kedokteran, dan ilmu falak.
Keahliaanya dibidang fikih bisa kita lihat dalam pertentangannya dengan pendapat Abu Hanifah pada waktu itu, ketidak setujuaanya ini ia tuangkan dalam sebuah karya yang setebal 10 jilid.[2]
Keahlianya dibidang kalam bisa kita lihat beberapa pemahaman Ibn Hibban terhadap hadis Rasul SAW, di antaranya adalah hadis nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
((يتقارب الزمان و ينقص العلم))
Menurut Ibn Hibban, “lewat hadis ini Rasul SAW memberi kabar bahwa pada akhir zaman nanti ilmu akan berkurang, saya melihat pada dasarnya semua ilmu akan berkembang kecuali pada displin ilmu satu ini yang beliau maksud adalah ilmu hadis dan sunan, setiap harinya ia berkurang. Ilmu yang Nabi jadikan khitab kepada umatnya setiap harinya berkurang dengan berkurangnya orang yang mengetahu sunan, jalan satu-satunya untuk mengetahui sunan adalah mengetahui para perawi dhaif dan yang ditinggalkan”.[3]
Keahliannya dibidang ilmu kalam tidak selalu berhujung manis, bahkan atas pengaruh ilmu kalamnya ia hampir saja terbunuh, karena gagasannya membuat bingung umat. Cobaaan ini adalah imbas dari pernyataan Ibn Hibban “Kenabian dengan ilmu dan Amal”. Gagasan ini lah yang membuat banyak orang yang memberi cap zindiq kepada Ibn Hibban. Tidak cukup itu saja, ia juga diusir dari Sijistan dan dilaporkan kepada Khalifah. Akhirnya Khalifah memutuskan untuk membunuhnya, akan tetapi Ibn Hibban lari dan bersembunyi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar