Tafsir Ath-Thabari (Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an) karya Imam Ibnu Jarir ath-Thabari (838–923 M) adalah kitab tafsir bi al-ma’tsur (berdasarkan riwayat) tertua dan paling otoritatif. Terdiri dari 26 jilid (terjemahan Pustaka Azzam), kitab ini mengupas Al-Qur'an menggunakan hadis Nabi, pendapat sahabat, dan tabi'in secara mendetail.
Berikut adalah profil lengkap Tafsir Ath-Thabari:
Penulis: Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
Judul Asli: Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Qur'an.
Corak Tafsir: Tafsir bi al-Ma'tsur (mengandalkan riwayat) dan Tahlili (analisis mendalam).
- Metode:Menguraikan makna ayat dengan riwayat sanad (Sahabat & Tabi'in).
- Menjelaskan aspek kebahasaan (lughawi).
- Melakukan tarjih (menguatkan salah satu pendapat) jika terdapat perbedaan riwayat.
- Membahas asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) dan qira'at.
- Keistimewaan: Diakui sebagai ensiklopedia tafsir tertua yang menjadi rujukan utama ahli tafsir generasi berikutnya (Ibnu Katsir, dll).
Thabari menghafal al-Qur'an pada usia tujuh tahun, menjadi imam shalat yang berkualitas pada usia delapan tahun, dan mulai mempelajari hadis kenabian pada usia sembilan tahun. Dia meninggalkan rumah untuk belajar pada tahun 236 H (850/1 M), ketika dia berusia 12 tahun. Dia mempertahankan hubungan dekat dengan kampung halamannya. Dia kembali setidaknya dua kali, kedua kalinya pada tahun 290 H (903 M), ketika sikapnya yang blak-blakan menyebabkan kegelisahan dan menyebabkan kepergiannya dengan cepat. Ia melakukan perjalanan menuntut ilmu ke luar daerahnya pada umur 12 tahun. Belajar di berbagai daerah di luar Iran namun pada akhirnya menetap di Baghdad hingga wafatnya pada tahun 310 H.
Ia salah satu ulama’ yang paling masyhur pada zamannya. Pendapat-pendapatnya menjadi rujukan, ia juga seorang hafizh Qur’an bahkan sangat faham dengan makna-makna yang dikandungnya. Sunnah nabi beliau kuasai, baik yang shahih maupun tidak. Dan yang menjadi kelebihannya, beliau paham betul dengan pendapat-pendapat sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya.
Menurut Abu al-Abbas “Muhammad Ibnu Jarir itu adalah seorang yang faqih”. Selain kitab tafsir Jami’ al Bayan, beberapa karya beliau yang tak kalah masyhurnya ialah: Tarikh al-Umam wa al-Muluk yang menjadi rujukan utama kitab sejarah raja-raja Arab, kitab al-Qiraat, al-Adad wa al-Tanzil, kitab Ikhtilaf al-Ulama’, Tarikh al-Rijal min al-Sahabat wa al-Tabiin, kitab Ahkam Syara’ii al-Islam dan masih banyak lagi yang lainnya yang menunjukkan keluasan ilmunya. Namun kitab-kitab tersebut tidak terlalu masyhur atau tidak sampai ke kita kecuali kitab Tafsir dan Tarikhnya.
al-Suyuti dalam kitab Thabaqat al-Mufassirin berkata “Beliau (Al-Thabari) awal mulanya seorang pengikut madzhab Syafi’i kemudian membentuk madzhab sendiri dengan pendapat-pendapatnya, dan beliau mempunyai banyak pengikut, dan dalam hal Ushul maupun Furu’ beliau memiliki banyak karya kitab. Konon, tafsir al-Thabary ini sempat hampir hilang dari peredaran namun dengan izin Allah naskah lengkapnya pada akhirnya ditemukan dalam penguasaan seorang mantan amir Najed yaitu amir Hamud bin amir Abdu al-Rasyid dan kemudian di salin untuk diterbitkan sehingga bisa sampai pada tangan kita sekarang.
Khâtib al-Baghdadi mendengar dari Ali bin Ubaidillah al-Lughawi as-Samsi bahwa ia aktif menulis selama 40 tahun dengan perkiraan setiap harinya menulis 40 lembar. Dengan demikian, selama 40 tahun diperkirakan ia menulis sebanyak 1.768.000 lembar. Suatu kesaksian lainnya pernah diturunkan oleh Abdullah al-Farqhani, ia menyebutkan bahwa sebagian murid ath- Thabârî memperhitungkan bila jumlah kertas yang pernah ditulisnya dibagi oleh usianya semenjak baligh sampai wafatnya, maka setiap hari, ia menulis 14 lembar.
Berikut sejumlah karyanya yang terekam,
1. Tahdzib al-Atsar wa Tafsil al-Sabit an Rasulillah min al-Akbar atau disebut oleh al-Qathi dengan Syarh al-Asar.
2. Al-Tabshirah fî Ma’alim al-Din
3. Ikhtilaf al-‘Ulama’ al-Amshar fî Ahkam Syara’i al-Islam. Manuskrip ini tersimpan rapi di rak perpustakaan Berlin. Kitab tersebut telah disebarluaskan oleh Doktor Frederick dan dicetak oleh percetakan al-Mausu‘at di Mesir pada tahun 1320 H / 1902 M dengan judul Ikhtilaf Fuqaha‘. Dan berjumlah 3000 lembar.
4. Al-Fashl bain al-Qira’at
5 Sharih al-Sunnah
6 Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh at-Thabari, kitab sejarah) atau kitab Ikhbar ar-Rasul al-Muluk
7 Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wîl Ayyi al-Qur’an (Tafsîr at-Thabari, kitab tafsir). Kitab ini merupakan tafsir 30 juz lengkap dicetak di Kairo pada tahun 1312 H oleh al-Mathba‘ah al-Maimunah, kemudian dicetak kembali dengan desain yang lebih bagus oleh al-Mathba‘ah al-Umairiyah antara tahun 1322- 1330 H sebagaimana yang diterbitkan oleh Dar al-Ma’arif Mesir edisi terbaru yang ditahqiq oleh Muhammad Mahmud Syakir.
Profil Tafsir al-Tabari
Kitab tafsir al-Thabari (Jamik al-Bayan fi Tafsir al-Quran) terdiri dari 30 jilid.
Metode penafsiran yang digunakan dalam kitab ini ialah Tahlili, yaitu menafsirkan ayat demi ayat secara mendetil dari al-Fatihah hinggan an-Nas. Sedangkan dari cara penafsirannya, ia termasuk dalam kategori tafsir bi al-Ma’tsur, menafsirkan al-Qur’an dengan Qur’an, atau dengan hadist Rasul, atau keterangan-keterangan dari para sahabat dan juga tabi’in. Hal ini terlihat sekali di dalam kitab at-Thabari yang menghadirkan banyak riwayat dari hadis maupun atsar para sahabat dan tabi’in dalam menafsirkan sebuah ayat. Sebelum memulai penafsirannya, merupakan ciri khas imam at-Thabary berkata القول فى تفسير السورة كذاوكذا dan القول فى تأويل كذاوكذا kemudian dikuatkan dengan riwayat-riwayat yang disandarkan kepada para sahabat, Tabi’in. Apabila ada dua pendapat atau lebih mengenai suatu ayat, beliau akan menguraikannya satu per satu dan didukung dengn riwayat-riwayat yang berkenaan dengannya dari para Sahabat dan Tabi’in. At-Thabary sangat menentang keras para penafsir yang hanya menggunakan akalnya saja atau murni pemahaman bahasa tanpa berpegang pada riwayat para sahabat maupun tabi’in.
Dalam menghadirkan riwayat-riwayat tersebut, beliau sering kali tidak mensahihkan maupun mendaifkan riwayat yang beliau kutip. Inilah yang menjadi kelemahan tafsir ini karena dengan itu beliau terlihat seperti melepas tangung jawab.
Download Tafsir Thabari
- Tafsir Thabari 01
- Tafsir Thabari 02
- Tafsir Thabari 03
- Tafsir Thabari 04
- Tafsir Thabari 05
- Tafsir Thabari 06
- Tafsir Thabari 07
- Tafsir Thabari 08
- Tafsir Thabari 09
- Tafsir Thabari 10
- Tafsir Thabari 11
- Tafsir Thabari 12
- Tafsir Thabari 13
- Tafsir Thabari 14
- Tafsir Thabari 15
- Tafsir Thabari 16
- Tafsir Thabari 17
- Tafsir Thabari 18
- Tafsir Thabari 19
- Tafsir Thabari 20
- Tafsir Thabari 21
- Tafsir Thabari 22
- Tafsir Thabari 23
- Tafsir Thabari 24
- Tafsir Thabari 25
- Tafsir Thabari 26


Tidak ada komentar:
Posting Komentar